Powered By Blogger

Kamis, 29 September 2016

Tugas MMS (Manajemen Majalah Sekolah) : Hasil observasi mading dan majalah sekolah

Hasil Observasi Mading dan Majalah Sekolah
Di SMA AL-ISLAM  1 SURAKARTA
Disusun guna Memenuhi Mata Kuliah Manajemen Majalah Sekolah
Dosen Pengampu: Drs. Agus Budi Wahyudi, M. Hum.

Description: Description: Description: http://i241.photobucket.com/albums/ff158/ndop/loggo/UMS-Surakarta.png


                         Disusun Oleh :

1.         Rachma Pristika                                  (A310130059)
2.         Aswa Thamkinati Putri                       (A310130064)
3.         Anik Susilowati                                  (A310130069)


PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016
Hasil Observasi

1.      Narasumber:
a.       Ketua Umum        : Elay Al-Huda Oztilio
b.      Sekertaris Umum  : Fitri Qotrunnada Al-Zahra
c.       Bendahara Umum : Vika Asmanah Meilani

2.      Pelaksanaan  Observasi
Tempat                        : SMA Al-Islam 1 Surakarta
Tanggal                       : 24 September 2016
Waktu                         : 11.00 selesai

3.      Hasil Observasi
A.    Manfaat Majalah Dinding
Mading memiliki banyak manfaat. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
1.      Media Komunikasi
Mading adalah media komunikasi termurah untuk menciptakan komunikasi antarpihak dalam lingkup tertentu. Dengan membaca mading, banyak hal yang semula tidak diketahui akhirnya menjadi perbendaharaan pengetahuan, baik yang bersifat praktis maupun yang perlu perenungan.
2.      Wadah Kreativitas
Pada umumnya kegiatan anak muda tidak pernah sepi dari kreativitas, misalnya olahraga, olah seni, keterampilan, permainan, dan tidak ketinggalan pula aktivitas ekspresi tulis. Lewat karya tulis akan tersalurkan dua macam manfaat yang bersifat timbal balik. Dari sisi penulis, majalah dinding adalah tempat untuk mencurahkan bermacam ide. Beragam gagasan, pikiran, daya cipta, bahkan fantasi yang mengiringi perkembangan jiwanya perlu penyaluran dan media untuk menuangkannya. Maka tepatlah apabila mading digunakan sebagai wadah curahan kreativitas kawula muda karena didukung oleh sifatnya yang mudah dilaksanakan dengan biaya yang murah. Dari sisi lain, pembaca akan mendapatkan penyaluran yang berkaitan dengan keinginan, cita-cita, kecintaan, kerinduan, keprihatinan, dan berbagai pikiran lain yang tidak dapat disalurkannya sendiri.
3.      Menanamkan Kebiasaan Membaca
Dunia akan menjadi luas bila kita senang membaca. Untuk itu, kegemaran membaca harus ditanamkan. Dalam hal ini mading punya andil yang besar. Mading dapat tampil setiap saat tanpa dihadang oleh sejumlah kesulitan. Mading dapat diterbitkan oleh siapa saja dalam jangka waktu yang relatif bebas tergantung animo pembaca.
4.      Pengisi Waktu
Banyak kawula muda tidak dapat mengisi waktu luangnya dengan baik. Kelebihan energinya dibuang percuma. Entah bercakap-cakap di tepi-tepi jalan, merokok, minum, membentuk "geng", mencoret-coretkan identitas "kelompoknya" dengan cat semprot di sembarang tempat, dan masih banyak lagi yang lain. Semua itu sebenarnya dapat ditangguhkan dengan membaca mading, kemudian aktif menulis. Apabila kelebihan tenaga yang diboroskan itu digunakan untuk menulis dalam lembaran mading, tentu akan banyak bermanfaat bagi perkembangan dan pertumbuhan jiwanya. Di samping itu, tentu juga bermanfaat bagi pihak lain.
5.      Melatih Kecerdasan Berpikir
Membaca mading akan membangkitkan gairah untuk mencari bacaan lain lewat "umpan" yang disajikan dalam mading. Kebiasaan membaca akan menambah pengetahuan pembaca dalam berbagai bidang. Semakin banyak membaca, pengetahuan siapa pun akan bertambah. Secara tidak langsung hal itu akan menjadi pendorong bertambahnya kecerdasan.
6.      Melatih Berorganisasi
Menghadirkan selembar mading berarti mengorganisasikan sekelompok orang. Mading menuntun semua yang terlibat di dalamnya untuk berorganisasi. Mading adalah perwujudan kerja tim atau kerja kelompok yang perlu saling mematuhi kesepakatan, aturan yang telah ditetapkan, kedisiplinan diri, dan kesungguhan bekerja. Dengan menyiapkan mading, secara otomatis siapa saja akan menghayati arti organisasi dan langsung terkait dengan aktivitas di dalamnya.

7.      Mendorong Latihan Menulis
Berdasarkan pengalaman, banyak penulis yang menggunakan media mading sebagai wahana berlatih. Berawal dari senang menulis hal-hal yang sederhana, tidak mustahil seseorang menjadi terbuka wawasannya untuk lebih mengembangkan kesenangannya dalam bidang kepenulisan secara lebih profesional.
B.     Bagian-bagian Majalah Dinding
Bagian-bagian itu secara lengkap adalah sebagai berikut:
1.      Humor
2.      Sapa Redaksi
3.      Karya sastra (cerpen, cerber, puisi, pantun, dsb)
4.      Artikel,tips,dsb
5.      Opini
6.      Kartun, karikatur, ilustrasi, vignyet, foto-foto, gambar
C.    Peralatan dan Bahan
Peralatan/bahan harus disediakan sejak awal dan disimpan rapi. Dalam hal ini termasuk terbitan-terbitan yang sudah dihasilkan, harus diarsipkan secara rapi. Peralatan/bahan yang diperlukan dalam membuat majalah  dinding adalah sebagai berikut:
1.      Tempat/box penempatan majalah dinding
2.      Kotak karya, untuk menaruh karya para siswa yang ingin   dimuat di majalah dinding .
3.       Kertas landasan, biasanya manila putih atau berwarna, dengan ukuran 110 x 80 cm. Bisa pula menggunakan kertas asturo.
4.      Kertas HVS (sebaiknya berwarna, bisa pula menggunakan kertas asturo).
5.      Spidol ukuran besar dan ukuran biasa
6.      Pensil dan penghapus
7.      Lem
8.      Gunting, pisau cutter
9.      Penggaris panjang dan pendek
10.  Komputer dengan tinta warna
D.    Pembuatan mading
Majalah dinding yang sering kita sebut dengan istilah mading adalah majalah yang dikelola secara sederhana oleh suatu lembaga. Biasanya oleh sekolah-sekolah dari tingkatan sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas. Ditilik dari formatnya yang apa adanya, maka majalah dinding bisa dikatakan sebagai majalah yang amat sederhana. Kesederhanaan ini antara lain meliputi; penampilannya, bentuknya, pengelolaannya, hingga pada keterbatasan kolom atau ruang yang disediakan.
E.     Karakteristik 
Majalah dinding, baik itu yang dikelola oleh sekolah memiliki karakter yang amat sederhana. Dikatakan sederhana, karena bentuk penampilannya lembaran,  tidak berbentuk buku atau majalah sebagaimana yang biasa kita kenal. Mading memiliki karakter mudah dibaca sambil berdiri. Untuk membaca majalah ini juga tidak dibutuhkan waktu terlalu lama. Mading bisa dibaca sepintas. Bisa dibaca dengan jarak lebih 30 cm dari mata kita. Mading merupakan majalah berbentuk hiasan – tulisan dan gambar- yang dipajang di dinding, yang tidak memiliki banyak kolom atau ruangan.
F.     Perwajahan
Perwajahan disebut juga tataletak atau lay out. Agar penampilan mading yang kita suguhkan kepada pembaca selalu tampak menarik, tentu saja perlu kita poles dengan wajah yang cantik. Dengan wajah dan tatanan yang cantik ini diharapkan anak-anak tidak cepat merasa bosan untuk terus membacanya. Sehingga kehadiran majalah dinding kita tak sia-sia.
G.    Tahap penerbitan
Frekwensi penerbitan mading di SMA Al-Islam 1 Surakarta adalah 1 bulan sekali dengan jumlah mading sebanyak 2 buah. Tetapi jika tidak memungkinkan maka hanya akan diterbitkan 1 buah mading. Kondisi tersebut erat kaitannya dengan sumber tulisan yang dapat dikumpulkan dan atau dibuat oleh tim redaksi.
H.    Proses Editing
Proses editing dilakukan oleh tim redaksi yakni meliputi penyeleksian tema tulisan, isi tulisan, dan penyempurnaan presentasi tulisan sebelum ditata ulang.
I.       Penataan
Penataan merupakan penyusunan bahan hasil editing menjadi sebuah tata mading yang benar dan layak untuk diterbitkan. Misalnya: penataan tata letak berita, gambar, foto, judul berita, dsb yang dapat menarik minat baca para partisipan (siswa, guru, staf tata usaha, dsb)

Mading dan Majalah Sekolah SMA AL-ISLAM 1 Surakarta

Mading SMA Al - Islam 1 Surakarta dikelola oleh guru Bahasa Inggris. Pengelolaan mading setiap kegiatan ada koordinator gurunya, yang menjadi koordinator mading yaitu Ibu Tatik. Mading dibuat rutin sebulan sekali, biasanya isi mading bisa berupa karangan siswa yang dimuat dengan adanya proses seleksi. Biaya yang digunakan untuk pembuatan mading berasal dari iuran anggota. SMA Al-Islam 1 Surakarta mendapat juara 1 lomba mading sejawa tengah yang bertema 3D. Dengan mendapatkan juara 1 tersebut SMA Al-Islam 1 Surakarta lebih berusaha mengembangkan mading menjadi lebih baik lagi.
Kepala Sekolah juga ikut berperan dalam pengelolaan mading, seperti mengingatkan bila mading sudah lama harus diganti denganyang baru. Di sini osis kurang berperan aktif dalam madding dikarenakan tugas osis hanya membantu untuk menghias tatanan artistic untuk mempercantik tampilan mading yang lebih berperan dominan tidak lain dan tidak bukan itu kolompok penyusun mading yang bertugas menyajikan dan mengelola madding tersebut dan guru pembimbing sebagi pengarah serta penyeleksi mana yang layak untuk dipasang dan mana yang tak layak ditampilkan.
Siswa-siswi SMA Al-Islam 1 Surakarta sangat berantusias dalam membaca mading. Biasanya siswa membaca mading saat jam istirahat. Rubrik mading meliputi humor, syair, pantun sama puisi, setiap terbit itu berbeda-beda jenisnya kalau yang pasti itu puisi, pantun buat sastra nya pasti itu ada, humor biar tidak terlalu serius tetapi untuk yang lainnya berbeda-beda. Rubrik humornya itu pasti agar anak antusias untuk membaca untuk yang lainya seperti syiar, berita tentang prediksi fenomena alam itu biasanya ganti-ganti tergantung yang baru terjadi, fenomena alam itu menggunakan teks eksplanasi . Humor yang dimuat di mading adalah anekdot.
SMA Al-Islam 1 Surakarta selain mengelola mading sekolah juga mengelola Majalah sekolah. Sekolah tersebut mengelola dua majalah sekolah yaitu Aktivis dan Abyan al-Haq. Penanggung jawab majalah sekolah tersebut yaitu kepala sekolah. Pembimbing pembuatan majalah sekolah ada guru bahasa Inggris dan guru bahasa Indonesia. Pemilihan Redaksi dipilih langsung dari kepala Sekolah dan diberi wewenang untuk menjalankan masa jabatannya serta memilih anggota dari guru Bahasa Indonesia. Masa jabatannya selama satu tahun.
Majalah sekolah Aktivis sudah edisi tiga puluh delapan (38).  Edisi terakhir atau 38 di tahun 2016 ini. Bentuk majalah berupa buletin atau majalah yang berbentuk kecil. Dalam majalah terserbut banyak rubik yang dimuatnya antara lain: sapa redaksi, celotehan, topik utama, humor, tips, trick, profil guru dll. Proses pembuatan majalah sekolah Aktivis, pertama pembagian artikel, kedua diserahkan ke PJ, ketiga dikumpulkan ke Editor lalu di edit, terakhir diserahkan kepada pimpinan redaksi. Sedangkan majalah sekolah Abyan al-Haq sebelumnya berawal dari majalah rohis kemudian menjadi majalah Abyan al-Haq. Majalah sekolah Abyan al-Haq sudah mencapai edisi dua satu (21). Edisi terahir pada tahun 2016 ini. Dalam majalah sekolah ini rubrik yang dimuat antara lain, tips abah, renungan hati, jejak salaf, ensiklopedia dll. Kedua majalah sekolah tersebut diterbitkan satu tahun 2 kali per akhir semester.

















LAMPIRAN
1.      Bersama ketua, sekretaris, dan bendahara umum majalah sekolah SMA Al-Islam 1 Surakarta

2.      Mading SMA Al-Islam 1 Surakarta
IMG-20160928-WA0000.jpg

3.      Bagian bagian mading
20160924_113806.jpg

20160924_113720.jpg

20160924_113730.jpg  20160924_113854.jpg


IMG-20160928-WA0003.jpg  20160924_113742.jpg

Jumat, 20 Desember 2013

Contoh Penelitan



A.  Judul
Nilai Budaya dalam Cerita Anak pada Koran Solopos Edisi September-Oktober 2013.
B.   Latar Belakang Masalah
Nilai budaya untuk anak-anak sangatlah penting dan harus ditanamankan dalam jiwanya. Anak-anak merupakan generasi penerus keluarga sekaligus generasi yang meneruskan perjuangan para pendahulu kita. Oleh karena itu anak-anak harus dikenalkan nilai-nilai yang baik dengan memerlukan media yang baik pula.
Cerita anak yang bergambar dapat menarik perhatian anak-anak. Ketika kita membacakan sebuah cerita anak, anak tersebut akan mengimajinasikan kejadian yang terdapat dalam cerita tersebut. Tarigan (1995:5) mendefinisikan bahwa cerita anak adalah buku yang menempatkan mata anak-anak sebagai pengamat utama, mata anak-anak sebagai fokusnya. Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak masa kini, yang dapat dilihat dan dipahami melalui mata anak-anak.
Buku cerita anak menceritakan tentang kegiatan keseharian anak yang terdapat di lingkungannya yang dapat di ceritakan melalui bantuan orang tuanya maupun gurunya di sekolah. Sarumpaet (2003:108) berpendapat cerita anak adalah cerita yang ditulis untuk anak dan berbicara mengenai kehidupan anak dan sekeliling yang mempengaruh anak serta cerita itu hanya dapat dinikmati oleh anak dengan bantuan dan pengarahan orang dewasa.
Dari latar belakang yang telah diuraikan, penelitian dengan judul "Cerita Anak pada Koran Solopos Edisi September-Oktober 2013” perlu dilakukan.
C.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka dapat peneliti rincikan rumusan masalah sebagai berikut :
1.    Bagaimanakah nilai budaya yang terdapat dalam Cerita Anak pada Koran Solopos Edisi September-Oktober 2013?
2.    Bagaimanakah unsur cerita  yang terdapat dalam Cerita Anak pada Koran Solopos Edisi September-Oktober 2013?
D.  Tujuan Penelitian
Ada dua tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini.
1.      Mengetahui nilai budaya yang terdapat dalam Cerita Anak pada Koran Solopos Edisi September-Oktober 2013.
2.      Mengetahui unsur cerita yang terdapat dalam Cerita Anak pada Koran Solopos Edisi September-Oktober 2013.
E.   Manfaat Penelitian
Berdasarkan penelitian maka dapat dipetik manfaat sebagai berikut :
a.    Manfaat Teori
1.      Membantu pembaca untuk mengetahui nilai budaya yang terdapat di Cerita Anak pada Koran Solopos Edisi September-Oktober 2013.
2.      Membantu pembaca untuk mengetahui dan memahami unsur Cerita Anak pada Koran Solopos Edisi September-Oktober 2013.
b.   Manfaat Praktis
1.      Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang Nilai Budaya dalam cerita anak.
2.      Hasil penelitian ini dapat menambah referensi dan menambah wawasan kepada pembaca.
F.     Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka berfungsi untuk mengetahui keaslian dalam suatu penelitian. Penelitian yang dilakukan Murningsih (2012) dalam skripsinya yang berjudul “Nilai Budaya dalam Novel Tanah Ombak Karya Abrar Yusra Tinajuan Semiotik”. Nilai Budaya tersebut antara lain nilai budaya dalam hubungan manusia dengan tuhan, nilai budaya dalam hubungan manusia  dengan masyarakat, nilai budaya dalam hubungan manusia dengan orang lain, dan nilai budaya dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri.
Penelitian tentang nilai budaya yang dilakukan oleh Akhmad Haidi (2006) dalam skripsinya yang berjudul “Nilai-nilai Budaya Jawa Novel Boma Karya Yanusa Nugroho Tinjauan Semiotik”. Adapun nilai-nilai budaya Jawa yang terdapat dalam novel Boma berdasarkan analisis semiotik meliputi : nilai budaya pewayangan, kasekten (kesaktian), dan bahasa Jawa.
Relevansi penelitian ini dengan penelitian Murningsih (2012) dan Akhmad (2006) memiliki kesamaan dan perbedaan. Persamaan penelitian yang dilakukan oleh sumber diatas ialah sama-sama mengkaji nilai budaya. Perbedaannya terletak pada obyek yang dikaji Murningsih (2012) mengkaji novel Tanah Ombak karya Abrar Yusra dan Akhmad (2006) mengkaji novel Boma karya Yanusa Nugroho.
G.    Kerangka Teori
1.    Pengertian Nilai
            Nilai memiliki berbagai macam-macam arti. Dalam KBBI nilai memiliki arti 1.harga, 2. Angka kepandaian, 3. Banyak sedikitnya, 4. Sifat-sifat yang penting bagi manusia, 5. Sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya.
     Beberapa pendapat tentang niai dapat diuraikan sebagai berikut:
a.    Menurut Bambang Daroeso, nilai adalah suatu kualitas atau penghargaan terhadap sesuatu, yang menjadi dasar penentu tingkah laku seseorang.
b.    Menurut Darji Darmodiharjo adalah kualitas atau keadaan yang bermanfaat bagi manusia baik lahir ataupun batin.(dalam Hermanto, 2006:126-127)
2. Pengertian Budaya
Banyak nilai yang telah tertanam di dalam masyarakat salah satunya adalah nilai budaya. Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah cerita anak. Mulai dari nilai agama, nilai sosial, nilai maoral, nilai pendidikan, dan nilai budaya. Nilai budaya adalah acuan dalam masyarakat yang bernilai atau tidak bernilai untuk menjalankan hidup.
Kebudayaan berasal dari bahasa sanskerta, yaitu buddayah yang merupakan bentuk jamak dari budhi diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal. Jadi kebudayaan adalah sesuatu yang mengetahui tingkat pengetahuan manusia dengan kebiasaan sehari-hari dan belajar. Koentjaraningrat (2006:25) mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar beserta dari hasil budi pekertinya.
Definisi kebudayaan banyak dikemukaan oleh para ahli sebagai berikut :
a.       Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yangturun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain.
b.      Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mengatakan kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa dan cipta manusia.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam masyarakat secara berulang-ulang dapay disebut budaya. Budaya tidak hanya berupa hasil peninggalan nenek moyang, tetapi juga dapat diciptakan dari masyarakat.
Berhubungan dengan wujud kebudayaan Koentjaraningrat juga berpendapat bahwa kebudayaan itu juga mempunyai paling sedikit tiga wujud sebagai berikut :
a.       Suatu kompleks ide, gagasan, nilai, norma, dan sebagainya.
b.      Suatu kompleks aktivitas atau tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
c.       Suatu benda-benda hasil karya manusia.
Koentjaraningrat juga memaparkan unsur- unsur universal itu ada tujuan yang sekalian merupakan isi semua kebudayaan yang ada di dunia ini seperti berikut :
a.    Sistem peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi).
b.   Sistem mata pencaharian hidup.
c.    Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial.
d.   Bahasa.
e.    Kesenian.
f.    Sistem pengetahuan.
g.   Sistem religi. (dalam Hermanto, 2006:26)

3.      Unsur Cerita Anak
Sebuah cerita anak didalamnya terdapat beberapa unsur yang membangun salah satunya ialah unsur intrinsik. Di dalam unsur intrinsik itu dibagi lagi menjadi beberapa bagian yang terkandung. Stanton (dalam Murningsih, 2012:8) menyatakan bahwa membagi unsur-unsur intrinsik yang dipakai dalam menganalisis struktural karya  sastra diantaranya tema, fakta cerita (alur, penokohan (karakter) dan latar), sarana-sarana sastra (judul, sudut pandang, gaya, simbolisme dan ironi).
Unsur intrinsik dalam cerita anak meliputi :
1. Tokoh
        Tokoh merupakan subjek yang berperan memainkan sebuah lakon dalam sebuah cerita. Lakon dalam cerita anak biasanya berupa binatang dan menggunakan nama-nama yang lengkap. Hasjim (dalam Murningsih, 2012:9) menyatakan bahwa penokohan dalam sebuah karya sastra ialah cara seorang pengarang untuk menampilkan para pelaku melalui wataknya, yakni sifat, sikap dan tingkah lakunya.
2.    Alur
          Alur berkaitan dengan rangkain peristiwa atau bagaimana peristiwa itu terjadi pada cerita. Stanton (dalam Murningsih, 2012:9) mengatakan bahwa secara keseluruhan alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita.
3.    Tema
        Tema adalah manka atau inti isi dalam cerita secara menyeluruh. stanton (dalam Murningsih, 2012:8) menjelaskan bahwa tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan “makna” dalam pengalaman manusia sesuatu yang dijadikan pengalaman begitu diingat.
4.    Latar
        Latar merupakan tempat yang digunakan dalam cerita yang harus ditel supaya anak-anak dapat mengerti. Stanton (dalam Murningsih, 2012:10) menjelaskan bahwa latar adalah lingkungan yang melengkapi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dalam peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung.
5.    Amanat
     Amanat yaitu pesan atau nasehat yang bersifat positif atau bersifat kebaikan yang ingin disampaikan penulis dan pengisahan
H.    Metode          
Metode penelitian merupakan cara-cara digunakan penelitian agar mudah dalam menyusun suatu penelitian dengan secara urut. Meleong (dalam Murningsih, 2012:27) menjelaskan bahwa metode penelitian adalah jalan atau cara yang digunakan dalam kegiatan penelitian yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur sesuai dengan obyek penelitian serta jenis penelitian.
a.      Jenis Penelitian
Penelitian deskriptif artinya untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian Suryabrata (dalam Murningsih, 2012:28). Penelitian ini mendeskripsikan kata-kata, frasa, kaliamat dan yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Jenis penelitian yang dilakukan peneliti dengan judul Nilai Budaya dalam Cerita Anak pada Koran Solopos Edisi September-Oktober 2013.
b.      Obyek Penelitian
Sebelum seorang peneliti melakukan sebuah penelitian, peneliti tersebut harus menentukan obyek yang dikaji terlebih dulu. Obyek penelitian sastra adalah pokok atau topik penelitian dapat berupa individu, benda, perilaku dan sebagainya Sangidu (dalam Murningsih, 2012:29). Obyek penelitian yang ada pada penelitian ini yakni nilai budaya yang terkandung dalam koran Solopos edisi September-Oktober.
c.       Data dan Sumber Data
a.       Data
        Data pada dasarnya merupakan bahan mentah yang dikumpulkan oleh peneliti dari dunia yang dipelajarinya Sutopo (dalam Murningsih, 2012:29). Data ini akan menggambarkan sesuai dengan kebahasaan yang dipakai penulis secara khusus. Sebagian data dalam penelitian ini adalah hasil cerita anak pada koran Solopos.
b.      Sumber Data 
              Sumber data adalah asal dari mana data diperoleh. Dari sumber data ini dihasilkan data primer yaitu data langsung dan segera diperoleh dari sumber data oleh penyelidik secara khusus. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah cerita anak di koran Solopos edisi September-Oktober tahun 2013. Sumber data sekunder, berupa informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan cerita anak sebagai bahan masukan dalam penelitian ini.
d.      Teknik Pengumpulan Data
              Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pustaka, simak, dan catat. Teknik pustaka adalah teknik yang menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data, teknik simak dan catat berarti penulis sebagai instrumen kunci untuk melakukan penyimakan secara cermat, terarah dan teliti terhadap sumber data primer. Hasil penyimakan dicatat sebagai data Subroto (dalam Murningsih, 2012:30).
              Teknik pustaka yang dilakukan penulis dengan membaca cerita anak dalam koran Solopos secara keseluruhan, kemudian teknik simak dengan menyimak koran Solopos secara cermat dan teliti sehingga memperoleh data yang diperlukan. Teknik catat data yang diperoleh dari menyimak kemudian dicatat sesuai dengan data yang diperlukan dalam penelitian.
e.       Validitas Data
              Meleong (dalam Murningsih, 2012:30 menyatakan bahwa teknik trianggulasi data adalah keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data itu. Dengan menggunakan data perbandingan antara data dari sumber data yang satu dengan sumber yang lain sehingga keabsahan kebenaran data akan diuji oleh sumber data yang berbeda. Teknik validitas data dalam penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi data.
f.       Teknik Analisis Data
              Sesuai  dengan jenis penelitian untuk menganalisis cerita anak dalam Solopos dengan cara pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data-data yang diperlukan yaitu kata, kaliamat dan ungkapan yang mengandung nilai budaya kemudian di teliti dengan cermat.
              Selesai mengumpulkan data baru di seleksi mana yang penting dan yang tidak penting dibuang. Hal ini dilakukan agar dapat membatasi isi penelitian. Sajian data dalam penelitian ini berupa analisis unsur intrinsik cerita anak kemudian diambil yang mengandung nilai budaya.
              Setelah mengkaji data dapat ditarik kesimpulan agar mengetahui tujuan penelitian yang dicapai dan dapat mempertanggungjawabkan isi penelitian. Dalam  hal ini peneliti berusaha menemukan hal-hal yang penting yang berkaitan dengan nilai budaya.
I.       Daftar Pustaka
Haridi, Akhmad. 2006. “Nilai-nilai Budaya Jawa Novel Boma Karya Yanusa Nugroho Tinjauan Semiotik”. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UMS.
Hermanto dan Winarno. 2006. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Solo: Bumi Askara.
Mukhlisaddien. 2012. “Menulis Cerita Anak” (online), (http://mukhlisaddien.blogspot.com/2012/07/menulis-cerita-anak.html, diakses tanggal 19 november 2013).
Murningsih. 2012. “Nilai Budaya dalam Novel Tanah Ombak Karya Abrar Yusta Tinjauan Semiotik”. Skripsi. Surakara: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UMS.